USK Aceh dan Michigan Universtiy Gelar Pelatihan Hitung Karbon Hutan

Michigan State University (MSU) Amerika Serikat (AS) bersama Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian-Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, dan Institut Pertanian (Instiper)-Yogyakarta melaksanakan pelatihan perhitungan cadangan carbon (carbon stock) dan biodiversity yang dimiliki oleh hutan di Aceh.

Ketua Panitia Pelaksana Pelatihan, Subhan Bakri, mengatakan kegiatan tersebut digelar selama 2 minggu, 7-19 Februari 2021. “Pesertanya sekitar 60 orang dari perwakilan stakeholder bidang kehutanan, akademisi dan kelompok masyarakat yang terlibat dalam berbagai program Perhutanan Sosial,” katanya, Rabu (17/2/2021).

Pelatihan bertema ‘Ecosystem Service Measurement and Monitoring Tools Workshop’ ini disponsori oleh Asia Pasific Network (APN).

Menurut Subhan, kegiatan dipusatkan di dua lokasi berbeda di Kota Langsa dan Kabupaten Nagan Raya. Mewakili berbagai tipe ekosistem yang dimiliki hutan Aceh, yaitu kawasan pesisir pantai barat Aceh, yang mewakili kawasan ekosistem rawa gambut dan tanah mineral serta kawasan pesisir pantai timur Aceh yang mewakili kawasan ekosistem mangrove.

Subhan menyebutkan pelatihan ini bertujuan memperkenalkan teknik pengumpulan data pengukuran carbon stock, biodiversity dan kondisi kesehatan hutan (forest integrity) Aceh kepada para pemangku kepentingan dalam upaya mengelola dan mempertahankan kelestarian hutan di Provinsi Aceh.

Ketua Prodi Kehutanan FP USK, Dr Ashabul Anhar, mengatakan kegiatan tersebut penting sebagai upaya mengetahui, menggali dan menghitung secara akurat berbagai potensi yang dimiliki dan tersimpan di dalam kawasan hutan Aceh.

Data hasil perhitungan dengan menggunakan metode yang dikembangkan oleh Michigan State University, dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan digunakan oleh berbagai pihak untuk berbagai kepentingan. “Pengelolaan hutan Aceh membutuhkan konsistensi, sumber daya manusia dan dukungan pendanaan yang besar serta keseriusan Pemerintah Aceh terutama untuk secara kontinyu memantau perkembangan pengelolaan dan perlindungan hutan yang masih tersisa,” katanya.

Saat ini, kata Ashabul, Aceh memiliki lebih dari 3 juta hektar kawasan hutan. Namun dalam pengelolaannya belum dapat menyajikan secara akurat dan aktual berbagai potensi yang dimiliki. Salah satu persoalannya adalah keterbatasan SDM dan pendanaan yang tidak memadai untuk melakukan aktivitas tersebut.

Salah seorang narasumber kegiatan tersebut, Dr. Jay Samek dari MSU, dalam penyampaian materi secara daring, mengatakan tools yang dikembangkan pihaknya tidak hanya berguna untuk mengetahui carbon stock yang dikandung oleh suatu kawasan hutan, namun dapat digunakan untuk merancang pengelolaan hutan secara lestari.

Misalnya untuk melakukan rehabilitasi, maka dapat menggunakan data ketersediaan anakan yang sesuai dengan kondisi lokal dan kelimpahan jenis yang tersedia secara alami di wilayah atau kawasan hutan setempat, tanpa harus mendatangkan jenis dari luar kawasan. “Hal ini penting diperhatikan untuk menghindari rendahnya keberhasilan rehabilitasi hutan dan lahan akibat salah dalam memilih jenis tanaman,” katanya.


Pelatihan ini juga menghadirkan Siti Maimunah sebagai narasumber penting yang turut serta mengembangkan tools yang dipakai menghitung karbon. Siti Maimunah merupakan sosok penting dalam bidang lingkungan hidup, peraih penghargaan Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), atas inisiatifnya mengembangkan model hutan pendidikan di Kalimatan Tengah.

Menurut Siti, pelatihan ini dapat berguna bagi KPH untuk mengetahui potensi hutan yang mereka kelola. Target di masa mendatang, KPH dapat melanjutkan pengumpulan data potensi ini secara mandiri sehingga akan sangat membantu pengelolaan hutan di tingkat tapak, termasuk di dalamnya menyusun rencana kegiatan pengelolaan hutan lainnya.

[Sumber: kumparan.com]

Bagikan Berita ini

Berita Lainnya